Minggu, 15 Mei 2011

"Makin Cantik Dengan Jilbab kerana Jilbab adalah kewajiban"

Assalamu'alaykum wr.wb..
Masih saja ada yang menanyakan(menyangsikan) kewajiban berjilbab.
Padahal dasar hukumnya sudah jelas yaitu:
o Surat Al-Ahzab ayat 59 (33:59)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:
“Hendaklah mereka mengulurkan hijab keseluruh tubuh mereka.”
Yang demikian itu supaya mereka lebihi mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
o Surat An-Nuur: ayat 31 (24:31)

“(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum
yang ada di dalam)nya, dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu
mengingatinya”. (An-Nuur:1)

Ayat pertama Surat An-Nuur yang mendahului ayat-ayat yang lain.
Yang berarti hukum-hukum yang berada di surat itu wajib hukumnya.

o Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya:
“Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria
ajnabi (yang bukan mahram/halal nikah), kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.”
o Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya.
“Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di
atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak,
maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan.”
o Al-Qurthubi berkata: Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan.
Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah
bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah shalallohu 'alahi wa sallam sedangkan
ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya :
“Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid,
tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.”
Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya.
Semoga Allah memberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya.”

Tidak menutup aurat adalah bentuk dari Tabarruj, Tabarruj adalah perilaku wanita yang
menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena
dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyinggung kata ini dalam firman-Nya:
“Janganlah kalian (wahai istri-istri Nabi) bertabarruj sebagaimana
tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)


Masihkah menyangsikan kewajiban memakai Jilbab?

Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita...

MENELADANI NABI MUHAMMAD S.A.W

Meneladani Nabi Muhammad S.A.W

Sahabatku…
Kita punya cara untuk
mengenang orang paling mulia
di dunia, Nabi Muhammad saw.

Catatan ringkas ini semoga
menjadi renungan buat kita.
Berteladan kepada Nabi saw.
Dia
sejatinya uswah, pasti tidak
akan membuat kita kecewa !

1.) Kalau ada pakaian yang
koyak, Nabi saw menambalnya
sendiri tanpa perlu menyuruh
isterinya. Beliau juga memerah
susu kambing untuk keperluan
keluarga maupun untuk dijual.

2.) Setiap kali pulang ke rumah,
bila belum tersaji makanan
karena masih dimasak, sambil
tersenyum beliau
menyingsingkan lengan bajunya
untuk membantu isterinya di
dapur. Aisyah menceritakan
bahwa kalau Nabi berada di
rumah, beliau selalu membantu
urusan rumahtangga.

3.) Jika mendengar azan, beliau
cepat-cepat berangkat ke
masjid, dan cepat-cepat pula
kembali sesudahnya.

4.) Pernah beliau pulang
menjelang pagi hari. Tentulah
beliau teramat lapar waktu itu.

Namun dilihatnya tiada apa pun
yang tersedia untuk sarapan.
Bahkan bahan mentah pun tidak
ada karena ‘Aisyah belum ke
pasar. Maka Nabi bertanya,
“ Belum ada sarapan ya
Khumaira?’ Aisyah menjawab
dengan agak serba salah, ‘Belum
ada apa-apa wahai Rasulullah.’
Rasulullah lantas berkata, ‘Jika
begitu aku puasa saja hari ini.’
tanpa sedikit tergambar rasa
kesal di raut wajah beliau.

5.) Sebaliknya Nabi saw sangat
marah tatkala melihat seorang
suami sedang memukul
isterinya. Rasulullah menegur,
‘ Mengapa engkau memukul
isterimu?’ Lantas lelaki itu
menjawab dengan gementar,
“ Isteriku sangat keras kepala!
Sudah diberi nasihat dia tetap
membangkang juga, jadi aku
pukul dia. ” Jelas lelaki itu.

“Aku tidak bertanya alasanmu,”
sahut Nabi saw.
“Aku menanyakan mengapa
engkau memukul teman
tidurmu dan ibu dari anak-
anakmu ?”

6.) Kemudian Nabi saw
bersabda, ”Sebaik-baik suami
adalah yang paling baik, kasih
dan lemah-lembut terhadap
isterinya. ’ Prihatin, sabar dan
tawadlu’nya beliau dalam
posisinya sebagai kepala
keluarga langsung tidak
sedikitpun merubah
kedudukannya sebagai
pemimpin umat.

7.) Pada suatu ketika Nabi saw
menjadi imam shalat. Dilihat
oleh para sahabat, pergerakan
Nabi antara satu rukun ke rukun
yang lain agak melambat dan
terlihat sukar sekali. Dan mereka
mendengar bunyi gemeretak
seakan sendi-sendi di tubuh
Nabi mulia itu bergeser antara
satu dengan yang lain. Lalu
Umar ra tidak tahan melihat
keadaan Nabi yang seperti itu
langsung bertanya setelah
shalat.

‘Ya Rasulullah, kami melihat
sepertinya engkau menanggung
penderitaan yang amat berat.
Sakitkah engkau ya Rasulullah ?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah,
aku sehat wal ‘afiat.”
“Ya Rasulullah.. .mengapa setiap
kali engkau menggerakkan
tubuh, kami mendengar suara
gemeretak pada sendi-sendi
tulangmu? Kami yakin engkau
sedang sakit …” desak Umar
penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat
jubahnya. Para sahabat amat
terkejut. Ternyata perut beliau
yang kempis, kelihatan dililit
sehelai kain yang berisi batu
kerikil, untuk menahan rasa
lapar beliau. Batu-batu kecil
itulah yang menimbulkan bunyi
gemeretak setiap kali
bergeraknya tubuh beliau.

“Ya Rasulullah! Apakah saat
engkau menyatakan lapar dan
tidak punya makanan, kemudian
kami tidak akan
mengusahakannya buat
engkau ?’
Lalu Nabi saw menjawab dengan
lembut, “Tidak para sahabatku.
Aku tahu, apa pun akan engkau
korbankan demi Rasulmu.
Tetapi
apakah akan aku jawab di
hadapan ALLAH nanti, apabila
aku sebagai pemimpin, menjadi
beban kepada umatnya ?’
‘Biarlah kelaparan ini sebagai
hadiah ALLAH buatku, agar
umatku kelak tidak ada yang
kelaparan di dunia ini lebih-lebih
lagi tiada yang kelaparan di
Akhirat kelak. ”

8.) Nabi saw pernah tanpa rasa
canggung sedikitpun makan di
sebelah seorang tua yang
dipenuhi kudis, miskin dan
kotor.

9.) Beliaupun hanya diam dan
bersabar ketika kain sorbannya
ditarik dengan kasar oleh
seorang Arab Badawi hingga
berbekas merah di lehernya.

Begitupun dengan penuh rasa
kehambaan beliau
membersihkan tempat yang
dikencingi seorang arab Badawi
di dalam masjid sebelum beliau
tegur dengan lembut perbuatan
itu.

10.) Kecintaannya yang tinggi
terhadap ALLAH swt dan rasa
penghambaan yang sudah
menghunjam dalam diri
Rasulullah saw menolak sama
sekali rasa ingin diistimewakan
(dipertuan).

11.) Seolah-olah anugerah
kemuliaan dari ALLAH langsung
tidak dijadikan sebab untuknya
merasa lebih dari yang lain,
ketika di depan keramaian
(publik) maupun saat seorang
diri.

12.) Pintu Syurga terbuka
seluas-luasnya untuk Nabi,
namun beliau masih tetap
berdiri di sepinya malam, terus-
menerus beribadah hingga
pernah beliau terjatuh lantaran
kakinya bengkak-bengkak.

13.) Fisiknya sudah tidak
mampu menanggung kemauan
jiwanya yang tinggi. Bila ditanya
oleh ‘Aisyah, ‘Ya Rasulullah,
bukankah engaku telah dijamin
Syurga? Mengapa engkau masih
bersusah payah begini ?’ Jawab
baginda dengan lembut, ‘Ya
‘Aisyah, bukankah aku ini
hanyalah seorang hamba?
Sesungguhnya aku ingin
menjadi hamba-Nya yang
bersyukur. ’

“Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah. ” (QS
Al-Ahzab:21)
Katakanlah (Muhammad): “Jika
kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku (Muhammad),
niscaya Allah mencintaimu dan
mengampuni dosa-dosamu. ”

Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. ” (QS Ali
Imran :31)
ﮱﯿﻠﺻ ﻢﻬﻠﻟﺁ
ﺂﻧﺪﻴﺳ ﮱﻠﻋ ﻢﻠﺳﯛ
ﻝﺁ ﮱﻠﻋ ﻭ ﺪﻤﺤﻣ
ﺪﻤﺤﻣ ﺂﻧﺪﻴﺳ

POLA HIDUP SEHAT RASULULLAH

Pola Hidup Sehat Rasulullah

Dalam berbagai aktifitas dan pola kehidupannya, Rasulullah memang sudah di rancang oleh Allah SWT sebagai contoh teladan yang baik (al uswah hasanah) bagi semua manusia.  Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pola makan.
Sepintas maslaah makan ini tampak sederhana, tapi dengan pola makan yang dicontohkan Rasulullah, beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat dan bugar.  Bahkan, berbagai riwayat shahih menjelaskan bahwa Rasulullah sanggup membanting Rukanah beberapa kali dalam sebuah pertarungan gulat, padahal Rukanah adalah juara gulat Mekkah yang saat itu tak terkalahkan.
Ketika Kaisar Romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit.  Dokter tsb bertanya kepada Rasulullah tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit.  Rasulullah bersabda:  ‘Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali sudah betul betul lapar dan apabila makan, kami berhenti sebelum kekenyangan’  (Al hadist*) 
Aktifitas Rasulullah yang padat dengan dakwah dan perjuanganmenegakkan agama yang masih muda ini, sehingga tiap menit dalam kehidupan Rasulullah selalu di isi dengan kegiatan yang produktif.  Rasulullah hampir tidak pernah bermalas malasan, berbicara tanpa tujuan ataupun tidur yang melebihi batas.  Siang dan malam waktu bleiau dipadati oleh urusan dakwah dan perjuangan.  Aktifitas yang sarat beban ini harus di dukung oleh kondisi fisik yang prima.  Dan Alhamdulillah, Rasulullah selalu dalam keadaan sehat dan hanya mengalami dua kali sakit selama hidupnya.  Pertama, ketika di racun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah di Madinah.  Kedua, menjelang wafatnya.
Para ahli kesehatan menilai gaya hidup Rasulullah dalam mengkonsumsi makanan, memberikan pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan beliau.  Kecerdasan Rasulullah dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsi telah menentukan tingkat kesehatan beliau.
Akhir akhir ini dunia medis baru menyadari bahwa ternyata pola makan merupakan faktor penentu dari penyakit2 yang di derita manusia.  Kebanyakan penyakit disebabkan oleh kacaunya pola makan, dan begitu pula faktor penyembuhan penyakit seringkali  ditentukan dari pola makan seseorang.  Itulah sebabnya sekarang pola makan menjadi bagian dari obat dan penyembuhan.  Selama ini dikenal dua bentuk pengobatan, yaitu:
1.  Pengobatan sebelum terjangkit penyakit, yang sering di sebut pencegahan(preventif/ Ath thib Al wiqo’i)

2. Pengobatan setelah terjangkit penyakit (ath thib al ‘ilaji) 
Dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza).  Hal ini jauh lebih baik dan murah daripada kita harus berhubungan dengan obat obat kimia senyawa sintetik yang hakekatnya adalah racun.  Berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah melalui makanan dengan senyawa kimia organik.
Kita mengenal ungkapan, “mencegah lebih baik dari mengobati”.  Mengenal serta meneladani pola makan Rasulullah merupakan langkah aplikatif dan tindakan preventif dari penyakit yang bisa menyerang tubuh kita.
Jika kita cermat melihat pola hidup Rasulullah, maka akan kita dapati point penting sbb:
  1. Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah adalah udara segar di subuh hari.  Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan (shalat) qiyamul lail. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat zat lain, sehingga sangat bermanfaat  untuk optimalisasi metabolisme tubuh.  Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas dalam aktifitasnya sehari penuh.   Orang yang memulai kehidupan di pagi hari dengan bangun subuh, biasanya menjalani hari dengna penuh semangat dan optimisme.  Berbeda dengan orang yang tidak bangun di subuh hari, biasanya lebih mudah terserang rasa malas beraktifitas.
  2. Di pagi hari, Rasulullah menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya.  Mulut dan gigi merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam konsumsi makanan.  Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.  Kita tahu siwak mengandung fluor yang sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi.  Fluor yang terkandung dalam siwak merupakan fluor alami yang berguna, berbeda dengan fluor sintetik yang dapat membahayakan kesehatan.  Saat ini, fluor alami yang terdapat dalam siwak sudah mampu di ekstraksi dalam bentuk pasta gigi agar mudah di gunakan.
  3. Di pagi hari pula Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang di campur dengan sesendok madu asli.  Khasiatnya luarbiasa.  Dalam Al Quran, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh.  Hal ini berarti pada dasarnya madu bisa  menjadi obat atas berbagai penyakit.  Di tinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan.  Madu juga mengandung mikronutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.  dalam istilah masyarakat Arab, madu di kenal dengan al hafidz al amin karena bisa menyembuhkan luka bakar.
  4. Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah senantiasa mengkonsumsi 7 butir kurma ajwa’ (matang).  Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”.  Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa di netralisir oleh zat zat yang terkandung dalam kurma.  Sementara itu Bisyir ibnu al barra, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tsb, akhirnya meninggal.  Tetapi Rasulullah selamat dari racun tsb.  Rahasianya adalah 7 butir kurma yang biasa di konsumsi Rasulullah.
  5. Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun.  Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti.  Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan.  Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.  Ada cerita menarik terkait dengan buah Tin dan minyak Zaitun.  Allah bersumpah dalam surat At Tin.  Dalam Al Quran, kata at tin  hanya disebutkan sekali, sedangkan kata az zaytun diulang sampai 7X.  Seorang ahli melakukan penelitian terkait hal itu.  Kesimpulannya luar biasa: jika zat zat yang terkandung dalam at tin dan az zaytun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1;7, maka akan menghasilkan ahsani taqwim (tubuh terbaik dan optimum kekuatannya) sebagaimana tercantum dalam surat At Tin
  6. Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur mayur.  Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah selalu mengkonsumsisana al makki dan sanut. (Dalam kamus Al Munjid Sana dan sanut berarti jenis tumbuh tumbuhan, bisa bermakna sayuran atau lalapan.  Tapisanut bisa juga berarti madu dan keju).  Menurut Prof. Dr Musthofa, di Mesir keduanya mirip dengan  sabbath dan ba’dunis.  Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang luar Arab, tpai Prof. Musthofa menjelaskan, intinya adalah sayur sayuran.  Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit.  Rasulullah tidak langsung tidur setelah makan malam.  Beliau beraktifitas dulu supaya makanan yang di konsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah di cerna.  Caranya bisa juga dengan shalat.  Rasulullah bersabda: “Cairkan makanan kalian dengan zikir kepada Allah dan shalat dan janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras” (HR Abu Nu’aim dari Aisyah r.a)
  7. Disamping menu wajib diatas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya.  Diantaranyatsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak.  Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula.  kemudian beliau juga senang  makan buah anggur dan hilbah (susu).
  8. Rasulullah sering menyempatkan untuk berolahraga.  Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak anak dan cucu cucunya.  pernah pula beliau lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah ra.  Olah raga diakui oleh para ahli kesehatan sangat bermanfaat bagi tubuh.
  9. Rasulullah tidak menganjurkan umatnya untuk bergadang.  Karena itulah beliau tidak menyukai  berbincang bincang dan makan sesudah waktu isya.  Biasanya beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi.  Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh karena tidur termasuk hak tubuh.
Pola makan Rasulullah  ternyata sangat cocok dengan irama biologis berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis).
Prof. Dr Musthofa Romadhon juga menjelaskan tentang tata cara Rasulullah mengkonsumsi makanan.  Hal ini tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Setinggi apapun gizinya, jika pola konsumsinya tidak teratur, tetap akan berdampak buruk terhadap kesehatan.
Inti pola konsumsi Rasulullah adalah menghindari isrof (berlebihan) dalam makan dan minum.  Rasulullah bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi sesuatu yagn lebih buruk dari perutnya.  Cukuplah baig anak Adam beberapa suap yang dapat  menegakkan tulang punggungnya.  Jika tidak ada cara lain maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya (udara)” (HR Tirmidzi dan Al Hakim.  Imam Arna’uth dan Imam Adz Dzhahabi mensahihkan hadist ini)
Ketika seseorang terlalu kenyang dan terlalu banyak makan, maka lambung akan penuh dan pernafasannya akan terganggu.  Proses pencernaan menjadi lama dna zat zat yang terkandung dalam maknanan tsb. menjadi tidka berfungsi dengan baik.  Kondisi fisik menjadi tidak prima dan aktifitas pun tidak maksimal.  Prof. Dr Musthofa menekankan bahwa assyab’u (kenyang) itu bukanal imtila (memenuhi perut dengan makanan).  Kenyang yang sebenarnya adalah tercukupinya tubuh  oleh zat zat yang dibuthkannya sesuai dengan proporsi dan ukurannya.
Rasulullah tidak pernah melakukan idkhol at thoam ‘ala thoam (makan lagi sesudah kenyang).  Suatu hari, dimasa setelah Rasulullah wafat, para sahabat mengunjungi Aisyah.  Saat itu Khilafah Islamiyah sangat luas dan makmur.  Sambil menunggu Aisyah, para sahabat yang saat itu sudah menjadi kaya raya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam macam.
Aisyah yang mendengar hal itu tiba tiba  menangis.  Tentu saja para sahabat terheran heran, “Apa yang membuatmu menangis wahai bunda Aisyah?” tanya para sahabat.
Aisyah menjawab, “Dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan (mencapai) dua jenis makanan.  Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”
Penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya macam macam makanan dalam perut telah melahirkan bermacam macam penyakit.  Maka sebaiknya tidak mudah tergoda untuk makan lagi jika sudah kenyang.

MENJADI PEMIMPIN YANG BERHASIL

MENJADI PEMIMPIN YANG BERHASIL 

1. Pemimpin sejati mampu memimpin dirinya sendiri.
Memberi instruksi adalah adalah hal yang mudah. Tapi seorang pemimpin sejati harus mengetahui bagaimana caranya memimpin dirinya sendiri. Tidak hanya memberikan contoh baik kepada karyawannya, tetapi ikut berperan serta, bekerja, atau terlibat dalam seluruh pekerjaan. Sangat penting bagi seorang pemimpin memiliki kemampuan memfokuskan dan memotivasi dirinya sendiri seperti dia menganjurkan pada seluruh bawahannya untuk memiliki motivasi.

2. Jangan jadikan kerajaan.
Pemimpin yang bijaksana seakan-akan anda telah mempunyai bakat untuk menduduki posisi tersebut. Tapi ingat, jangan ciptakan sebuah kerajaan. Pemimpin yang secara kebetulan jadi bos, sering juga secara kebetulan membentuk suatu sistem aturan yang tidak perlu dan terlalu mengekang. Aturan bagi karyawan memang perlu, tapi tak perlu berlebihan. Buatlah yang perlu-perlu saja. Memang penting untuk memengaruhi orang-orang dengan siapa Anda bekerja. Tapi ingat, jangan memandang kedudukan Anda sebagai suatu hierarki.

3. Selalu terbuka mencari bentuk baru.
Salah satu kunci keberhasilan dari menjalankan bisnis adalah mengulang-ulang sesuatu yang terbukti berhasil. Masalahnya, seorang pemimpin yang secara kebetulan jadi pemimpin, cenderung terus saja mengulang metode tadi dan tak berani melakukan terobosan baru. Sebaliknya, pemimpin sejati mengakui keberhasilannya tetapi juga
menyadari bahwa selalu ada jalan lain untuk membuat sesuatu lebih baik lagi.

4. Kepribadian kuat & tanggung jawab.
Memang benar Anda yang memegang kekuasaan. Tapi itu tak berarti Anda boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Jangan hanya menuntut bawahan untuk menyelesaikan tugas dengan baik, tapi Anda pun harus memberi contoh yang baik. Jangan lupa, Anda adalah panutan mereka.

5. Menuntaskan pekerjaan.
Banyak pemimpin berkata, "permainannya" telah selesai. Padahal, seorang pemimpin sejati, tidak akan pernah merasa selesai bekerja. Tiap hari pasti ada masalah baru yang harus segera dituntaskan. Entah komplain dari klien atau bawahan yang membuat ulah. Jadi, jangan pernah bosan membuat suatu tujuan yang pragmatik dengan ukuran yang dapat dihitung kapan harus dimulai dan berakhir. Kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu merupakan tantangan.

6. Beri penghargaan selayaknya.
Pemimpin sejati harus mempunyai tangan yang kuat sepertisi Popeye setiap kali habis makan bayam. Prestasi yang baik menuntut timbal baik yang riil. Pemimpin yang mempunyai mata jauh ke depan sangat dikagumi dan dihargai, tetapi haruslah dengan sesuatu tindakan yang nyata pula, misalnya memberi promosi, bonus, dan bentuk penghargaan yang nyata atas prestasi karyawan. Hal ini akan membuat karyawan terus termotivasi bekerja dengan baik dan bersikap loyal terhadap perusahaan.

7. Tak berhenti belajar.
Jauh sebelum para eksekutif ber-pendapat bahwa keahlian memimpin berasal dari semacam anugerah yang menakjubkan, tetap saja seorang pemimpin yang dapat dipercaya juga berarti harus terus dan banyak belajar. Bacalah buku-buku mengenai menjadi pemimpin yang efektif, ikutilah seminar-seminar, dan ambil contoh-contoh dari teman-teman yang telah berhasil. Hal ini bisa merupakan suatu pelajaran yang panjang, tetapi yang didapat akan berlipat ganda, dan tidak ternilai harganya.


Menjadi pemimpin yang berhasil menurut ahli,

Menurut John C. Naxwell, pemimpin sejati idealnya mempunyai tujuan hidup yang jelas dan terutama mempunyai minat yang besar untuk memimpin umat manusia menuju tujuan yang jelas tersebut. Walaupun tidak menjelaskan dengan contoh seorang person, tetapi menurut John, dari hasil interview-nya dengan sekian banyak pemimpin perusahaan dan institusi di Amerika. mereka yang telah berhasi menjadi pemimpin di perusahaan besar ataupun pemimpin massa, adalah mereka yang mempunyai suatu visi (tujuan hidup) yang jelas serta misi yang dipahaminya.

Minat yang besar dalam memimpin suatu perusahaan, institusi atau sekelompok besar manusia / profesionaI atau umat adalah salah satu sumber motivasi terbesar dan penting dari dalam diri seseorang pemimpin yang berhasil. John menyarankan bagi para calon pemimpin agar berhasil yaitu pertama-tama agar mempunyai tujuan hidup yang jelas, yang dipahaminya benar, yang sangat diinginkan dan diperjuangkannya. Idealnya tujuan hidup tersebut bernilai baik bagi banyak orang, berkualitas atau dihargai oleh pemilik perusahaan (shareholder) sehingga banyak orang akan mendukungnya, dengan sukarela atau termotivasi untuk mengikutinya pula.

John menganalisis bahwa seringkali calon pemimpin yang kurang berhasil, hanya memilih tujuan hidupnya semata untuk memilikinya, tetapi tidak benar-benar menginginkannya, bahkan tidak punya gairah (desire) untuk mencapainya. Semua hanya angan-angan, cita-cita setinggi langit, yang hanya dilihat dan dikagumi, tak pernah berusaha untuk meraihnya.

MENJADI WANITA YANG SHOLEHAH

MENJADI Wanita Sholeha

PENDAHULUAN

Dalam bahasa Al Qur’an wanita disebut imroatun yang mempunyai akar kata yang sama dengan kata mir’atun. Mir’atun berarti cermin. Cermin dapat berfungsi baik apabila cermin tersebut bersih, tidak rusak/pecah dan kualitasnya baik, sehingga mampu menghasilkan pantulan sinar /cahaya yang sempurna atau tidak cacat. Demikian pula seorang wanita menjadi cermin hidup/kehidupan keluarga harus berfungsi sebagaimana mestinya.

Mendidik anak laki-laki berbeda dengan anak wanita. Mendidik anak laki-laki berarti mendidik seorang manusia, akan tetapi mendidik seorang wanita berarti mendidik seluruh keluarga. Mendidik wanita harus dilengkapi dengan ketrampilan kerumah-tanggaan/ berumah tangga seperti memasak, berhias diri, merawat tubuh, mengatur/ menata rumah, bahkan bekal saat memasuki bahtera rumah tangga.

Wanita dalam kehidupannya menjalankan multiperan, diantaranya : peran sebagai istri, Ibu, dan anak sekaligus, bahkan juga sebagai wanita karier. Tentu tugas ini berat, namun ketika dijalani dengan senang hati dan ikhlas, Insya Allah semua itu menjadi ringan.
Sebagai gambaran peran-peran tersebut di atas, sedkit penjelasan dari masing-masingperan/fungsi dan tugas kaum wanita :

1. WANITA SEBAGAI ISTRI
Wanita sebagai pendamping suami, secara umum tugasnya adalah memenuhi kewajibannya terhadap suami, mendukung/mendorong semangat untuk keberhasilan suami dalam berbagai hal dan mendoakan suami.
Sabda Nabi Muhammad saw: Pengabdianmu kepada suamimu adalah Shodaqoh ( HR. Dailami).

Berikut adalah langkah praktis yang dapat dilakukan dalam menjalankan perannya sebagai istri seperti yang tuturkan Ibu Sitaresmi S. Sukanto :

1) Hendaklah istri senantiasa meminta izin kepada suami, apabila hendak keluar rumah atau melakukan kegiatan yang tidak dapat mengikutsertakan suami dan anak-anak.
2) Usahakan istri selalu salam mencium tangan suami ketika hendak  bepergian
3) Senantiasa bersyukur dan berdoa atas rizki yang telah diusahakan oleh suami betapapun kecilnya
4) Memaafkan kekhilafan suami dan bersabar atas kekurangannya
5) Menyambut kepulangan suami dari bekerja dengan meringankan bebannya dan menyegarkan gairah/semangat dengan berpakaian yang menarik dan berpenampilan sebaik mungkin
6) Memperbanyak ungkapan rasa “Cinta dan Sayang” kepada suami dimanapun saat ada kesempatan
7) Menyediakan waktu khusus untuk menjalin romantisme bersama suami, misal di akhir pekan atau pada acara khusus tertentu
8) Memberikan bingkisan istimewa yang merupakan kegemaran suami
9) Memelihara keakraban dan menghormati orangtua dan saudara suami
10) Menyapa atau memanggil suami dengan sapaan/panggilam khusus
11) Bersedia untuk mendengar keluhan-keluhan suami bahkan sampai dengan hal-hal yang bersifat pribadi sekalipun
12) Meminta pendapat suami tentang pakaian yang akan dibeli atau Anda   pakai, seperti model, warna atau lainnya
13) Menyediakan waktu untuk mendiskusikan perkembangan karir suami atau masa depan anak-anak
14) Menjaga harta suami dengan cara cermat dan hemat
15) Menjaga kehormatan keluarga dan menjaga rahasia rumah tangga serta aib suami.

Satu kisah di Majelis Taklim. Salah seorang berkata: “ Enak sekali suami harus diperlakukan seperti itu”. Tetapi dalam renungannya, lalu hatinya berkata: Kenapa saya rajin ikut pengajian tapi tidak mau berubah?. Tapi bagaimana memulainya, karena selama ini perlakuanku banyak yang berlawanan. Pada suatu hari dengan niat yang kuat akan merubah sikap dan perlakuan kepada suamiku. Satu demi satu dijalankan, suamipun mengamatinya. Oh ada perubahan besar pada istriku, kenapa ?, demikian pertanyaan dalam hatinya. Pada saat yang tepat, suami bertanya: Sayang, akhir-akhir ini kok sikap dan perlakuanmu kepadaku berubah drastis ? Istrinya menjawab: ya, aku ikut pengajian dan selama ini perlakuan saya terhadap Abang salah, saya minta maaf. Mendengar istrinya ikut pengajian, lalu bertanya siapa gurunya? Namun istrinya belum bersedia memberitahukannya. Sang suami senang dengan perubahan sikap istrinya dan selalu mendorong serta mengingatkan hari-waktu pengajian, bahkan mau mengasuh anak-anaknya yang masih kecil agar istrinya bisa ikut pengajian. Penampilan suaminya di kantor pun lebih segar, ceria dan bekerja lebih baik.

Banyak diakui oleh kaum pria bahwa keberhasilan hidupnya karena peran para wanita disekitarnya. Dibalik kaum pria yang HEBAT ada wanita di belakangnya yang HEBAT. Wanita itu adalah ISTRI, IBU dan ANAK WANITANYA.

2. WANITA SEBAGAI IBU
Ibu adalah sebutan wanita yang melahirkan, wanita yang sudah tua usianya atau wanita yang membimbing/mengasuh anak. Keluarga dalam pengertian awam adalah orangtua yang terdiri ayah, ibu atau suami istri dengan/tanpa anak. Peran ibu sangat besar dalam mewujudkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga. Dalam kehidupanpun masyarakat banyak menggunakan kata ibu, sebagai sesuatu yang memiliki peran yang besar, seperti kata ibu Pertiwi untuk menggambarkan tanah, air tempat berpijak hidup manusia, Ibu jari untuk bisa memuji seseorang, ibu kota sebagai pusat berbagai kegiatan, dan lain-lain. Pada sisi lain Ibu juga diangkat tinggi oleh Allah swt, misalnya: Ketika sahabat bertanya kepada Nabi mengenai kepada siapa dia harus berbuat baik. Pertanyaan itu dikemukakan 4 kali. Jawabanya 3 kali, berbuat baik kepada ibumu dan yang ke empat kepada ayahmu. Bentuk lain Sorga berada di bawah Telapak kaki Ibu, mengandung makna bahwa kalau mau sukses dunia maka tunduklah kepada Ibumu dan apabila mau sukses di akhirat tunduklah nasehat ibumu yang sholehah. Keridhoan seorang ibu menentukan kehidupan anak-anaknya. Banyak pengalaman rekan-rekan yang meraih sukses dalam kerja, usaha, kehidupan keluarga dan lainnya karena mereka menjaga, berbuat baik dan didoakan oleh ibu-ibu mereka. Satu hal lagi, Allah memberikan porsi warisan. laki-laki dan wanita 2 berbanding 1. Wanita konon pada dasarnya matrealistis:), namun hanya mereka yang mampu mengelola diri sajalah yang mampu menurunkan kadar matrealistisnya sampai titik terendahnya. Walaupun diakui ada wanita-wanita yang memiliki tingkat matrealistisnya terendah, misal mereka siap nikah walaupun calon suaminya belum memiliki apapun termasuk pekerjaan, namun ia tahu calon suaminya bukan tipe pemalas atau menunggu pemberian orang lain. Dia serahkan rizkinya kepada Allah nanti setelah nikah dengan kerja keras bersama. Walaupun perannya besar, secara materi 1 bagian, namun balasannya akan Allah sempurnakan nanti di akhirat sebagaimana janji-Nya.

Tugas ibu sebagai orangtua sangat berat dan Allah melatihnya sejak ia mengadung seperti sakit, lemah, mual-mual, pusing atau berbagai keinginan aneh. Kemudian harus membawajaninnya kemana saja ia pergi. Latihan yang terberat adalah saat melahirkan, ia mempertaruhkan antara hidup dan mati. Mati syahid ketika sang ibu melahirkan harus berakhir dengan kematian. Ketika latihan berat ini bisa dilalui dengan baik, maka tugas berikutnya juga berat karena bersifat fisik dan psikologis.

Tugas yang melibatkan fisik dan psikologis ini tidak lain adalah tugas mendidiknya. Meskipun pada saat masih dalam kandungan juga sudah berkewajiban mendidiknya, namun tidak seberat setelah lahir. Mendidik anaknya setelah lahir membutuhkan waktu panjang, tenaga dan financial. Tugas ini dapat dilalui dengan baik, apabila tugas dan peran yang pertama ( sebagai istri) telah dilaksanakn dengan baik.

Tugas mendidik memang bukanlah tugas individu seorang ibu, namun perlu disadari bahwa ibu memiliki peran yang sangat besar. Ibu adalah guru pertama dan utama di rumah. Peran suami bersifat mengokohkan apa yang telah dibentuk ibu. Peran Ibu lebih efektif karena ada ikatan anak dan ibu yang kuat saat dikandungan. Untuk bekal atau pegangan orangtua dalam mendidik anak-anaknya, berikut peringatan Dorothy Law Nolte dalam “ Children learn what they live” atau anak-anak Belajar dari Kehidupannya:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelai
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang,dan persahabat, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.

Tergambar dengan jelas bahwa perlakuan orangtua, khususnya ibu menentukan protret karakter anak-anaknya. Oleh karena itu harus dihindari adanya sikap yang berlawanan antara Ibu dan Ayah, karena kemungkinan hasilnya lebih buruk lagi.
Disamping mendidik karakter, juga bekali anak-anak kita dengan mempertahankan dan mengembangkan kualitas iman; bekerja dengan baik ( disiplin/meghargai waktu); berjuang bekerjasama menegakkan kebenaran dan bekerjasama menyebarkan kesabaran ( QS. Al Asr: 1-4)

Berikut 10 WASIAT Seorang IBU kepada putrinya untuk dijadikan sebagai pegangan dalam menjalan peran baru sebagai istri:

1) Bertemanlah dengan sikap Qonaah ( menerima apa adanya)
2) Dengarkan dan taati apa-apa yang baik, saran-saran dan keluhannya
3) Perhatikan apa-apa yang disenangi dan apa-apa yang tidak disenanginya.
4) Jangan sampai memandang sesuatu yang buruk darimu dan mencium kecuali bau yang harum
5) Perhatikan waktu makannya, kebutuhannya, ibadahnya dan jaganlah ketenangan tidurnya
6) Perhatikan dan jagalah rumah dan harta
7) Peliharalah dirinya, kehormatannya, anak-anaknya dan silaturahim dengan keluarganya
8) Janganlah engkau menyebarkan rahasia dan mendurhakai perintah baiknya.
9) Janganlah engkau gembira bila ia sedang sedih dan janganlah bersedih bila ia sedang gembira
10) Tunjukkan penghormatan/penghargaanmu dan ketaatan yang sebesar-besarnya.

3. WANITA SEBAGAI ANAK
Ketika belum menikah peran ini sudah sangat jelas, karena semua bentuk ketaatan kepada Ibunya tidak ada masalah. Pada saat menikah banyak yang belum muncul kesadaran bahwa sekarang ia telah menjadi anak dari 2 ibu dan 2 ayah, yakni Orangtua atau ibu dan ayah mertua atau ayah dan ibu dari suami. Terbukti perlakuan yang terbaik belum terlihat pada ayah dan ibu mertua. Ketika ayah dan ibu mertua berkunjung ke rumahnya diperlakukan lebih rendah dibanding ayah/ibunya sendiri. Terlebih ketika kondisi ayah/ibu mertua lebih rendah baik kedudukan /jabatan, kekayaan atau lainnya. Demikian juga ketika berkunjung ke orangtua, kunjungan ke orangtua sendiri lebih lama dan oleh-oleh yang banyak dibandingkan mertua. Padahal orangtua suami (mertua) lebih membutuhkannya, Sikap dan perlakuan yang seperti ini bukanlah cerminan dari wanita sholehah. Sikap dan perlakuan di atas dapat menyebabkan kerenggangan hubungan silaturahim keluarga suami. Kalau suami tidak mampu memperbaiki keadaan ini, memungkinlah terjadinya kerenggangan hubungan silaturahmi antar kedua keluarga. Perlakukan orantua suami sama dengan seperti orangtua sendiri, apapun keadaannya. Berilah bantuan atau pemberian lain sesuai dengan kebutuhan orangtua. Demikian juga dengan saudara-saudara suami.

4. WANITA SEBAGAI PEKERJA, PROFESIONAL ATAU PENGUSAHA
Sejalan perkambangan zaman, peran wanita semakin dibutuhkan tidak saja di lingkungan rumah tangga, tetapi di masyarakat. Banyak kaum wanita bekerja sebagai wanita karier atau Pengusaha. Mereka bekerja sebelum menikah dan dilanjutkan setelah nikah. Ada yang bekerja setelah menikah. Berbagai alasan kaum ibu bekerja di lembaga/kantor. Sebagian dalam rangka menunjang kehidupan keluarga, sebagian lagi karena tidak sanggup bekerja hanya seputar pekerjaan rumah tangga, keahliannya  dibutuhkan masyarakat  atau kemauan untuk berbisnis. Terlepas apapun alasannya, namun peran, fungsi dan tugas di atas (1) dan (2), tidak boleh diabaikan. Apabila suami-istri bekerja di luar rumah, ada 2 hal yang tidak boleh digantikan oleh siapapun, yatu melayani suami dan mendidik anak-anaknya di rumah:) Pekerjaan mencuci, menyetrika, merawat kebersihan/taman, (sebagian) memasak dan lainnya mungkin bisa dilimpahkan kepada pembantu atau jasa lain.

Jabatan yang lebih tinggi, gaji/penghasilan yang lebih besar, keluarga/ saudara-saudara lebih kaya atau lainnya tidak boleh mengurangi peran, fungsi/tugas, sikap dan perlakuan kepada suami.
Demikain juga ketika memiliki peran sebagai “ Public Figure” dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial/kemasyarakatan, politik atau lainnya. Peran besar di masyarakat dan kedudukan yang tinggi, jangan menjadikan turun sikap, perlakuan dan kewajibannya terhadap suami. Masalah lain yang sering terjadi adalah gaji dari istri hanya untuk keperluan, kesenangan istri sendiri. memang hal ini dibolehkan. Namun lebih baik berapapun hasil kerja istri, gabungkanlah dengan penghasilan suami untuk kebutuhan keluarga. Terlebih lagi bila penghasilan suami belum mencukupi kebutuhan keluarga. Bukankah istri kerja juga atas izin suami. Tanpa izin, tentu saja tidak ada gaji/penghasilan yang diterima. Kegiatan lain yangdilakukan oleh sebagian lainnya, adalah membuka usaha di rumah untuk menyokong kebutuhan hidup keluarganya. Khaerudin